Tidak terasa, seminggu lebih telah berlalu sejak aku menggunakan offtime ku ke Bandung sejak tgl 24 Nov lalu..fiuww, 6 hari libur sebenarnya waktu yang sangat-sangat cukup bagi kebanyakan orang, tapi entah kenapa, pada saat ini 6 hari terasa sangat kurang buatku, lebih-lebih saat menjelang akhir tahun ini, otakku sangat intens memerintahkan segenap sel dan organ tubuhku untuk ikut menari, mengikuti irama kota kembang yang lama-kelamaan terasa semakin riak..
Bandung, sedemikian cintanya aku pada kota ini, bahkan mungkin mengalahkan kecintaanku pada kota asalku Kediri yang kutinggali 3x lebih lama. Kota yang mampu memantik percikan cahaya-cahaya terang sekaligus tempat yang bagus juga untuk merubah malaikat menjadi setan..he he he, aku sudah pernah mencoba merasakan keduanya. Kalau dipikir-pikir, aku berhutang sangat besar pada kakakku yang tersayang, M Nurul Hadi, yang dulunya “sedikit memaksa” aku untuk kuliah di Bandung, meski pada awalnya aku sama sekali ogah dengan satu alasan ” terlalu jauh dari rumah “.. n_n heh, sebuah pola pikir yang jelas sangat-sangat payah dan tidak dewasa. Kenyataannya, satu bulan pertama tinggal di Bandung sudah cukup untuk merubah paradigmaku.. Bandung, tempat aku bertemu dengan berbagai mahakarya dan kejadian luar biasa, hampir di segala hal. Bahkan seminggu pertama pun aku sudah dibuat terkagum-kagum oleh segala kenyataan hidup yang membuatku semakin wajib untuk merasa semakin bersyukur.. Di Bandung kemarin, aku sempatkan bertemu teman-teman lamaku, Husnan, Danny Senpai, Daud, Rangga, dll, walaupun waktunya tidak bisa banyak dikarenakan jadwal yang kita yang memang tidak bisa match..
Kemudian salah satu acara wajibku adalah ke pak wagino, penjual buku keliling di depan masjid Salman..he he, sudah 10 th sejak pertama kali ketemu beliau, sampai jadi langganan, perasaan tidak ada perubahan. Palingan rambutnya yang tampak semakin memutih..Jiwaku terasa seperti mau keluar raga, setelah tanpa sengaja melihat buku “Dibawah Bendera Revolusi jilid 2″ (Jilid 1 nya sudah punya), Sarinah, dan rangkuman2 pidato” yang seluruhnya adalah karya tulis Bung Karno. Setelah nego dan nego, kutebuslah 3 jilid kertas-kertas usang itu dengan jumlah nominal yang mungkin cukup untuk membeli sebuah HP made in China yang bisa buat liat TV. meski sebenarnya harganya udah tergolong cukup miring. Tapi masa bodoh. Menurutku buku2 yang seperti itu bukan barang yang gampang dicari. Bisa-bisa saat kita niat mencari, malah sulit tar nemunya.
Cukup banyak waktu yang kugunakan untuk maen di kampus kemarin, mau sambil bengong+duduk, atau jalan+ngelamun, sambil menikmati indahnya pemutaran film dokumenter yang rollnya masih tersimpan rapi di sel-sel otakku. Sayangnya, film-film yang terputar, kebanyakan adalah film yang deringnya menyedihkan meskipun sebenarnya mereka adalah kategori film yang membahagiakan, sialnya otakku seperti tidak mau kompromi, seenak frekuensi dia sendiri aja merewind, berulang-ulang, sampai nafasku menjadi semakin payah dan nalarku udah terbang entah kemana.. Untungnya aku sempat melihat adanya jadwal seminar tertempel di dinding, tentang Teknologi Terbaru Offshore di bidang Oil & Gas, yang diselenggarakan oleh Teknik Kelautan..bagus juga nih pikirku.. He he, temporarily, I could regain control of my Naughty Brain.. So, the Decision is I am to participate!!
Seminar, diadakan di Gedung Pertemuan Auditorium Timur, baru kali ini aku masuk gedung dan ruangan itu..La saat aku lulus, gedung itu belum ada >_<. Betul-betul sebuah ruang pertemuan yang sangat bagus. Pembicaranya datang dari berbagai sumber, ada yang dari Departemen ESDM, Tripatra, BP Tangguh, Medco, dsb.. Ada yang aku mengerti krn sedikit nyambung dengan apa yang udah pernah aku terima di gawean, tapi hal-hal baru juga cukup banyak, apalagi yang sifatnya teknis dan hitungan..akibatnya ya sulit ngeh nya >-<, karena banyak dari mereka yang membahas tentang teknik kelautan, bahkan perkapalan..Tapi lumayanlah, namanya juga ilmu baru, mungkin 50-60% nya masih bisa kuserap maksudnya..
Di hari terakhir, sebelum balik ke Mundu, aku sempatin datang di festival kuliner dan budaya Jawa Timur di gerbang ganesha. WOAA, kapan ya terakhir kali aku makan nasi pecel yang benar-benar nasi pecel n_n, akhirnya di acara ini aku nemu nasi pecel yang kata Husnan cukup enak, nasi pecel Madiun bu Tuti dari jalan Gelap Nyawang, cuma begitu mencoba, lagi-lagi rasanya masih terasa kurang membangkitkan insting, sudah rasanya cenderung manis, ga pedas sama sekali, sayurannya aneh, nggak ada peyeknya lagi, wah-wah n_n. Tapi lumayanlah, baru kali ini aku merasakan rasa pecel yang cukup bisa mengobati rasa rindu..