Diamnya rengutan anak mama, menciprat tunas lentera jiwa laki
Aroma nirwana terpercik tegar sebatas satu tombak prajurit belia
Menggumpal dan berdebu, beranak dalam daging
Lihat..sepenggal metamorfosa obsidian terwujud intan 24 karat
Letih meradang wajar, terpangkas segurat senyum maya
Penawar ego, terpahat oleh rotasi cakram bernada
Pagar keangkuhan tak kuasa menolak refleksi jiwa bicara
Pulsa berdenyut setiupan empat lilin, terang, berapi ..namun kelam
Menerawang alunan langkah kuncup jasmine terlewat lembut merona
Menari, gemetar, menggeliat, tertawa sambil menangis
Seperseribu kedipan mata berujung secawan fenomena siaga
Gelombang impuls terproses menuju keadaan bersuara hati
Era serpih liatan fana, satu yang terliput oleh pemilik keberadaan
Ketuk tasbih andromeda, galaksi mutlak sulit tercengkram
Cahaya berpeluh tenang menabur lapisan pori-pori ketiga
Lebur tak terbantahkan, untuk eksistensi yang masih tersembunyi …
Bandung,
September 27th, 2007
izmed khoirul a.